Cemoro Sewu
4:15 PMDeskripsi photo:
Sebagaimana terlihat di photo bahwa aku sedang berdiri di depan pintu gerbang Cemoro Sewu, yang merupakan gerbang untuk melakukan pendakian ke puncak gunung Lawu di kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Sebenarnya lokasinya tak jauh-jauh amat dari Provinsi Jawa Timur, karena jika menginjakkan kaki di depan pintu gerbang itu berarti kamu sudah melewati perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sebagaimana terlihat di photo bahwa aku sedang berdiri di depan pintu gerbang Cemoro Sewu, yang merupakan gerbang untuk melakukan pendakian ke puncak gunung Lawu di kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Sebenarnya lokasinya tak jauh-jauh amat dari Provinsi Jawa Timur, karena jika menginjakkan kaki di depan pintu gerbang itu berarti kamu sudah melewati perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kenapa aku bisa nyasar sampai situ? Jika anda bertanya demikian (atau tidak tanya sekalipun) penjelasannya adalah pada waktu itu aku bersama teman-teman sedang dalam survey untuk mencari lokasi perkemahan yang tepat. Tapi ternyata lokasi perkemahan di Cemoro Sewu tak lain adalah pos pemberhentian pertama yang biasa disebut “pos satu”. Dan tempatnya harus ditempuh dengan mendaki jalan bebatuan yang terjal melewati hutan cemara. Oh iya, disebut “Cemoro Sewu” atau dalam bahasa Indonesia berarti seribu cemara tak lain karena banyaknya pohon cemara yang tumbuh di lokasi ini.
Pohon-pohon tersebut merupakan vegetasi alami wilayah ini, yang kemudian oleh pemda setempat (sepertinya) dijadikan hutan wisata. Berada di tengah-tengah jalur pendakian ke pos satu, kami sudah terengah-engah kelelahan, maklum karena suhu udara sangat dingin meskipun cuaca sedang terik matahari di siang bolong. Pernah buka kulkas? Kurang lebih segitu lah dinginnya (majas hiperbola: ON). Selain itu jika kamu mampir atau nyasar ke sana, jangan heran (atau malah takut) jika mendengar suara gemericik air. Karena suara itu merupakan efek samping dari banyaknya daun cemara yang bergesekan satu sama lain tertiup angin, mengeluarkan suara mirip gemericik air di sungai.
Kami memutuskan untuk pulang setelah merasa ini bukan lokasi camping yang tepat. Turun menuju jalan utama yang sepi. Jalan utama tepat berada di depan gerbang. Meskipun berada di tempat yang tinggi, jalan yang menghubungkan objek wisata Sarangan ini terbilang sangat ‘premium’ jika dibandingkan jalanan di pegunungan lain pada ketinggian yang sama. Di seberang jalan tersebut, terdapat sebuah mushola kecil yang relatif bersih. Ketika hendak sholat ashar, tentu saja mengambil air wudhu, nah anda tahu air yang hendak membeku? Seperti itu temperaturnya! (kalau diukur pake termometer gak segitunya kok…).
Hanya sedikit photo yang bisa diambil kali ini, karena baterai hp habis (sebelum berangkat kebanyakan buat internetan sih…). Jadi hanya sedikit photo yang bisa ditampilkan. :(
Dan jangan tanya kenapa aku masih memakai seragam sekolah. Karena memang survey tersebut dilakukan tepat setelah pulang sekolah, dan untuk kepentingan kegiatan sekolah. :p
Pantai di Wonogiri
4:01 PM
Tulisan ini dibuat sebagai oleh-oleh dari tahun 2009. Bukankah kenangan indah layak untuk diabadikan? Karena sudah lama tidak posting (setahun! :D), maka kenangan tersebut akan ku abadikan ke bentuk tulisan. Memang saat ini aku banyak latihan jurnalistik. Tapi juga untuk mengikuti ajang Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC. www.mudaers.com.
Sabtu, 26 Desember 2009 kami berkumpul di rumah kos salah satu temanku yang berada di dekat sekolah. Dari sana, makan waktu sekitar dua jam lebih untuk sampai di lokasi. Perjalanan begitu lama karena memang berjarak lebih dari 120 km dari kota Solo. Ditambah lagi sebelumnya tidak ada satu pun dari kami yang tahu lokasinya, sehingga kadang-kadang harus berhenti untuk sekedar bertanya arah jalan. Sebagai informasi, dengan kecepatan rata-rata tak kurang dari 80 km/jam menggunakan sepeda motor bermesin 110cc perlu isi bensin Rp 10.000,- untuk berangkat, itu pun masih tersisa setengah ketika tiba di tujuan.
Hampir tiba di lokasi, jalan sudah mulai sepi. Ternyata penunjuk arah menunjukkan kami berangkat sejalur dengan jalan menuju Pracimantoro, dan Yogyakarta. Memasuki lokasi kami harus berhenti untuk beli tiket masuk seharga Rp 2.000,-/orang. Setelah melewati pintu gerbang ala kadarnya yang terbuat dari bambu dan dijaga oleh pemuda-pemuda setempat, kami disambut oleh jalan naik turun yang sempit. Tapi setidaknya sebuah truk dapat melewati jalan itu. Ketika pertama kali datang, siapapun pasti akan berharap menyaksikan garis pantai setiap melewati tanjakan. Karena memang sebelum tiba di pantai kami harus melalui banyak tanjakan dan turunan yang lumayan terjal. Tak apa, karena rasa lelah setelah melalui perjalanan panjang ini, dibayar lunas dengan penampakan garis pantai pada tanjakan terakhir.
Tiba di pantai Nampu. Setibanya di lokasi pantai, sekali lagi mesti merogoh kocek untuk membayar biaya parkir sebesar Rp 2.000,-/motor. Menyentuh air laut, kami harus berjalan kaki sekitar 200 meter dari tempat parkir. Melewati anak tangga turun menuju pasir pantai. Aroma laut sudah sangat tercium sampai di sini. Jika diperhatikan, karakteristik pantai Nampu ini memang unik, dipenuhi dengan perbukitan yang kebanyakan tersusun atas formasi batuan cadas dan koral yang menjulang tinggi membentuk bukit. Sehingga, cakrawala, garis batas antara langit dan air laut dapat terlihat dengan jelas sebelum kita menginjakkan kaki di pasir pantai.
Pantai Nampu ini dapat dibilang masih relatif belum terjamah, meski sudah ada beberapa fasilitas yang dibangun seadanya macam kamar ganti. Dan juga sudah ada beberapa penjual minuman dan makanan di sekitar pantai. Jika anda pernah ke pantai Parang Tritis di Yogjakarta, maka anda akan merasakan sensasi yang berbeda di pantai Nampu ini. Sensasi itu datang dari pasirnya. Jika dideskripsikan, pasir pantai di Nampu lebih putih dengan diameter yang relatif lebih besar tapi tetap terasa lembut. Mungkin karena pasir di sini terbentuk akibat dari pecahan batuan koral yang terhantam ombak tiap harinya sehingga membentuk karakteristik pasir yang unik. Dan juga terlihat lebih putih, mungkin karena masih sedikit polutan di sekitar pantai. Beda dengan Parang Tritis yang banyak polutan mencemari pasirnya.
Bermain air, itulah aktivitas utama kami di sini. Dengan sebelumnya membeli beberapa es kelapa muda seharga Rp 2.000,-/gelas untuk melepas dahaga, serta menitipkan tas dan pakaian di salah satu warung. Secara keseluruhan, jika sekilas saja dilihat, maka daerah yang paling menarik rasa ingin tahu adalah sebuah bukit bertebing di pinggir laut, ombak yang menabraknya membentuk batuan-batuan dan tebing yang curam. Pasti tepat untuk sebuah lokasi pemotretan. Setelah sedikit bermain di area itu, kami kembali untuk melakukan apa yang wajib kami lakukan di pantai, bermain air.
Puas setelah lebih dari satu setengah jam di pantai, karena tidak membawa pakaian ganti kami kembali pulang dengan badan penuh keringat dan air laut, bercampur dengan pasir. Perjalanan pulang ke Solo, kami diguyur hujan deras. Berteduh di salah satu warung di Wonogiri kota, sekalian makan santapan lezat berupa mie ayam dan minum teh hangat yang total satu porsi Rp 10.000,- (kebiasaan lama, lupa nama warungnya). Pulang, karena takut kehabisan bensin di tengah perjalanan isi bensin Rp 10.000,- lagi, dan dengan kecepatan rata-rata di atas 90 km/jam kami tiba di Solo dalam waktu tak lebih dari satu setengah jam.
Kesimpulan, sebagai bangsa Indonesia kita boleh berbangga hati memiliki kekayaan alam yang luar biasa berupa pantai yang indah. Akan tetapi rasa bangga itu baru boleh kita pamerkan setelah kita dapat secara bersahabat mengelola dan merawat alam yang telah Tuhan anugerahkan pada bangsa ini. Jika melihat pengalaman yang aku pernah rasakan, jalan-jalan ke pantai Nampu, memang indah, tapi kritik untuk pemda setempat adalah fasilitas seharusnya diperbaiki. Bukankah ini adalah salah satu potensi yang dapat dijadikan maskot wisata kota Wonogiri disamping waduk Gajah Mungkur. Dengan sedikit perbaikan dan banyak promosi, maka bukan hal mustahil wisatawan asing yang datang. Jika sudah demikian, bukankah yang akan merasa bangga adalah masyarakat kota Wonogiri sendiri. Tunjukkan pada dunia bahwa bukan Bali saja maskot wisata di Indonesia, banggalah karena memiliki pantai yang sejujurnya jauh lebih indah jika dirawat dengan baik, dan pantai tersebut ada di kabupaten Wonogiri.
Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC. www.mudaers.com.
Saat libur semesteran tahun lalu, bersama teman-teman aku berencana untuk pergi berlibur ke suatu tempat. Akhirnya diputuskan untuk pergi ke pantai. Pantai Nampu, itulah namanya, pemilihan pantai ini sebagai tujuan wisata liburan kami bukan karena tanpa sebab, tetapi karena pantai yang berada di Kabupaten Wonogiri ini konon katanya masih belum terjamah.
Sabtu, 26 Desember 2009 kami berkumpul di rumah kos salah satu temanku yang berada di dekat sekolah. Dari sana, makan waktu sekitar dua jam lebih untuk sampai di lokasi. Perjalanan begitu lama karena memang berjarak lebih dari 120 km dari kota Solo. Ditambah lagi sebelumnya tidak ada satu pun dari kami yang tahu lokasinya, sehingga kadang-kadang harus berhenti untuk sekedar bertanya arah jalan. Sebagai informasi, dengan kecepatan rata-rata tak kurang dari 80 km/jam menggunakan sepeda motor bermesin 110cc perlu isi bensin Rp 10.000,- untuk berangkat, itu pun masih tersisa setengah ketika tiba di tujuan.
Hampir tiba di lokasi, jalan sudah mulai sepi. Ternyata penunjuk arah menunjukkan kami berangkat sejalur dengan jalan menuju Pracimantoro, dan Yogyakarta. Memasuki lokasi kami harus berhenti untuk beli tiket masuk seharga Rp 2.000,-/orang. Setelah melewati pintu gerbang ala kadarnya yang terbuat dari bambu dan dijaga oleh pemuda-pemuda setempat, kami disambut oleh jalan naik turun yang sempit. Tapi setidaknya sebuah truk dapat melewati jalan itu. Ketika pertama kali datang, siapapun pasti akan berharap menyaksikan garis pantai setiap melewati tanjakan. Karena memang sebelum tiba di pantai kami harus melalui banyak tanjakan dan turunan yang lumayan terjal. Tak apa, karena rasa lelah setelah melalui perjalanan panjang ini, dibayar lunas dengan penampakan garis pantai pada tanjakan terakhir.
Tiba di pantai Nampu. Setibanya di lokasi pantai, sekali lagi mesti merogoh kocek untuk membayar biaya parkir sebesar Rp 2.000,-/motor. Menyentuh air laut, kami harus berjalan kaki sekitar 200 meter dari tempat parkir. Melewati anak tangga turun menuju pasir pantai. Aroma laut sudah sangat tercium sampai di sini. Jika diperhatikan, karakteristik pantai Nampu ini memang unik, dipenuhi dengan perbukitan yang kebanyakan tersusun atas formasi batuan cadas dan koral yang menjulang tinggi membentuk bukit. Sehingga, cakrawala, garis batas antara langit dan air laut dapat terlihat dengan jelas sebelum kita menginjakkan kaki di pasir pantai.
Pantai Nampu ini dapat dibilang masih relatif belum terjamah, meski sudah ada beberapa fasilitas yang dibangun seadanya macam kamar ganti. Dan juga sudah ada beberapa penjual minuman dan makanan di sekitar pantai. Jika anda pernah ke pantai Parang Tritis di Yogjakarta, maka anda akan merasakan sensasi yang berbeda di pantai Nampu ini. Sensasi itu datang dari pasirnya. Jika dideskripsikan, pasir pantai di Nampu lebih putih dengan diameter yang relatif lebih besar tapi tetap terasa lembut. Mungkin karena pasir di sini terbentuk akibat dari pecahan batuan koral yang terhantam ombak tiap harinya sehingga membentuk karakteristik pasir yang unik. Dan juga terlihat lebih putih, mungkin karena masih sedikit polutan di sekitar pantai. Beda dengan Parang Tritis yang banyak polutan mencemari pasirnya.
Puas setelah lebih dari satu setengah jam di pantai, karena tidak membawa pakaian ganti kami kembali pulang dengan badan penuh keringat dan air laut, bercampur dengan pasir. Perjalanan pulang ke Solo, kami diguyur hujan deras. Berteduh di salah satu warung di Wonogiri kota, sekalian makan santapan lezat berupa mie ayam dan minum teh hangat yang total satu porsi Rp 10.000,- (kebiasaan lama, lupa nama warungnya). Pulang, karena takut kehabisan bensin di tengah perjalanan isi bensin Rp 10.000,- lagi, dan dengan kecepatan rata-rata di atas 90 km/jam kami tiba di Solo dalam waktu tak lebih dari satu setengah jam.
Kesimpulan, sebagai bangsa Indonesia kita boleh berbangga hati memiliki kekayaan alam yang luar biasa berupa pantai yang indah. Akan tetapi rasa bangga itu baru boleh kita pamerkan setelah kita dapat secara bersahabat mengelola dan merawat alam yang telah Tuhan anugerahkan pada bangsa ini. Jika melihat pengalaman yang aku pernah rasakan, jalan-jalan ke pantai Nampu, memang indah, tapi kritik untuk pemda setempat adalah fasilitas seharusnya diperbaiki. Bukankah ini adalah salah satu potensi yang dapat dijadikan maskot wisata kota Wonogiri disamping waduk Gajah Mungkur. Dengan sedikit perbaikan dan banyak promosi, maka bukan hal mustahil wisatawan asing yang datang. Jika sudah demikian, bukankah yang akan merasa bangga adalah masyarakat kota Wonogiri sendiri. Tunjukkan pada dunia bahwa bukan Bali saja maskot wisata di Indonesia, banggalah karena memiliki pantai yang sejujurnya jauh lebih indah jika dirawat dengan baik, dan pantai tersebut ada di kabupaten Wonogiri.
MENGAPA BANGGA JADI INDONESIA
3:20 PMBeberapa waktu yang lalu ada sebuah kompetisi blog, karena sangat tertarik, maka postingan ini ku buat untuk mengikuti Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC, www.mudaers.com.
Sebagai bangsa Indonesia, ketika kita ditanya “apakah bangga menjadi Indonesia?”, secara normal pasti kita dengan bangga menjawab ya. Tapi jika ditanya alasannya, biasanya secara normal juga kita akan menyebutkan segala anugerah yang diberikan Tuhan pada bangsa ini. Hal tersebut berlaku untuk manusia yang dilahirkan –oleh ibunya– di Indonesia.
Apa sih yang kamu banggakan dari Indonesia?
Apa sih yang kamu banggakan dari Indonesia?
Begini ceritanya, dari segi geologis kita semua telah tahu Indonesia terdiri dari jutaan pulau yang total garis pantainya lebih jauh dari garis khatulistiwa. Dimana di dalamnya terdapat jutaan spesies makhluk hidup baik flora maupun fauna. Panorama alamnya luar biasa cantik tak tertandingi negara manapun, seolah negeri ini cuilan taman langit yang jatuh ke bumi. Ratusan taman laut belum terjamah yang dapat dijadikan lokasi penyelaman. Jajaran pegunungan Mediterania dan Pasifik membentuk bentangan pulau, menciptakan gunung-gunung vulkanis menjulang tinggi yang menghasilkan tanah terbaik di dunia. “Tongkat pun jadi tanaman”, tak percaya? Coba saja tancapkan batang ketela di tanah belakang rumah ku, di musim hujan tak lebih dari tiga hari untuk tongkat itu berdaun muda. Kekayaan flora di Indonesia sudah tak perlu ditanya, seharusnya adalah terkaya di bumi. Bagaimana dengan hewannya? Jenis fauna zona Asiatis yang sangat bertenaga dengan jenis zona Australia yang sangat eksotis ada di Indonesia. Keduanya rukun menyatu di sini. Tak heran banyak spesies langka Indonesia yang dapat kita temui di kebun binatang negara lain. Karena bangsa lain ingin anak-anak mereka menyaksikan badak bercula satu yang hidup, kasuari yang terbang, ataupun harimau Sumatera yang sedang buang hajat. Itulah fauna Indonesia, unik.
Dari segi sosiologis, sejak zaman kerajaan Sriwijaya Nusantara sudah terkenal peradabannya ke seluruh benua. Armada laut yang tangguh terorganisir dengan baik, salah satu yang terkuat yang pernah ada. Bahkan kalau anda sempat baca novel karya Kak Andrea Hirata yang berjudul “Maryamah Karpov” masih bisa terasa betapa kuatnya armada laut yang pernah kita miliki. Yang sisa-sisa kekuatannya berjuang bertahan hidup hingga sekarang dengan berkawan pada laut. Majapahit, sebuah kerajaan besar, sempat pula Gajah Mada menyatukan Nusantara di bawah bendera kerajaan itu. Agraris, ya itulah kenangan yang ditinggalkannya. Menciptakan orientasi budaya berbasis cocok tanam. Cara bercocok tanam yang mengakar budaya hingga saat ini. Pertanian, perkebunan, perikanan, yang bahkan sempat tiga setengah abad Belanda dengan konspirasinya mencicipi hasil agraris tiada batas dari Indonesia. Berbagai macam turunan Adam ada di Indonesia, bersuku-suku berwarna-warni penuh dengan corak semua bersatu di bawah ekor sang Garuda, tercengkeram kuat di kakinya, terpatri selamanya di tulisan berbahasa sansekerta. Bahasa kuno itu kurang lebih artinya “berbeda-beda tapi tetap satu jua”. Tulisan yang menyiratkan persatuan dari berbagai jenis makanan yang dimakan bangsa ini. Nasi tumpeng, gudeg, soto, rendang, rawon, itu segelintir makanan ‘berat’ dari pulau Jawa, belum termasuk camilan tradisional lainnya, belum yang dari Sumatera, Sulawesi, Papua atau luar pulau jawa lainnya, belum lagi masakan original hasil akulturasi nusantara dengan bangsa lain. Bayangkan jika dibuat ensiklopedi resep masakan dan camilan nusantara, berapa kira-kira tebalnya. Jamu, minuman asli nusantara yang paling aman dan paling menyehatkan di planet ini, sudah turun temurun ada di Indonesia. Khasiatnya di bidang kesehatan sudah terbukti, bahkan menurut riset termutakhir, daripada mengkonsumsi obat-obatan kimia, lebih baik minum jamu, begitulah anjurannya.
Dari segi perilaku alias “unggah-ungguh” bertata krama, Indonesia paling ramah di antara negara lainnya. Lemah lembut, seperti di Jawa tapi tetap bertenaga seperti suku-suku di Papua.
Ironi, negara kaya, tidak tanggung-tanggung, fantastis kekayaannya, tapi miskin itu Indonesia. Entah karena efek samping dari konspirasi setengah abad yang mengubah isi nusantara. Atau karena bangsa ini telah lupa daratan, terlalu lama dimabuk kenikmatan bergelimangan kekayaan alam. Terlalu rakus, sehingga alam menunjukkan gempa yang terdahsyat sembilan koma tiga skala richter membuat manusia di dunia ini bergidik. Gempa sampai angka tujuh saja adalah rekor terkuat di planet bumi, sedangkan sembilan? Memang pengalaman untuk menyadarkan bangsa Indonesia harus ditukar dengan ratusan ribu nyawa rakyatnya.
“Mungkin alam mulai bosan bersahabat dengan kita”. Anugerah yang kita banggakan mulai memusuhi kita. Bagaimana tidak? Hal yang paling kecil, bungkus permen, ke mana kita membuangnya jika sedang di dalam bus? Sanggupkah kita menahannya sebentar, simpan dalam saku pakaian, begitu sampai di tujuan buang di tempat sampah non-organik kering.
Lihat sungai-sungai di Indonesia, terutama di daerah padat penduduk, di kota-kota, kotor. Bagaimana bisa kita membanggakan kekayaan alam Indonesia, jika kita belum dapat mengelolanya dengan perasaan ingin bersahabat, bukan dengan rasa ingin meraup kekuasaan dengan keuntungan sepihak. Membanggakan perbedaan suku pun tidak bisa, selama konflik antar suku masih terjadi. Bangga dengan tata krama, sopan santun, atau kebudayaan Indonesia? Coba lihat remaja saat ini, sumpah pemuda dianggap barang kuno yang patut dimuseumkan. Bahasa Indonesia saja tidak digunakan dengan baik di kehidupan sehari-hari, apalagi basa krama alus-nya orang jawa, it’s expired guys! Remaja kita lebih bangga berlogat asing daripada logat lokal. Dugem jauh lebih asyik daripada menyaksikan wayang kulit. Kekerasan, seks bebas, kriminalitas kebanyakan dilakukan remaja. Ah, aparat penegak hukum pun sama saja, tetua-tetua yang gila harta berkuasa di singgasana penting pemerintahan. Sedikit perdebatan berakhir dengan pukulan. Hukum negeri ini pun masih jauh dari kata ‘bangga’, apalagi dibanggakan. Anak bangsa membangun negeri tetangga, dikuras tenaga dan mentalnya dengan variasi kreatif tindak kekerasan, Indonesia paling banter cuma bisa bakar ban bekas di depan kedutaan. Hilang taring di depan tetangga sendiri, tidak bisa menyelamatkan bangsanya sendiri yang dimanfaatkan untuk membangun negeri orang. Kehormatan sebagai warisan kerajaan besar macam Sriwijaya atau Majapahit lenyap di mata tetangga, apalagi bangsa yang jauh di seberang samudera. Teriak-teriak ngomong stop global warming, tapi buang sampah plastik permen masih sembarangan. Padahal sampah plastik merupakan investasi jangka panjang dalam menunjang pemanasan global. Ikut-ikutan merayakan hari AIDS sedunia, tapi perayaannya dengan pesta seks. Bilang ingin mengurangi kemiskinan, malah beli mobil super mewah yang padahal fungsinya bisa digantikan yang lebih ramah lingkungan, andong, delman, bendi, dokar, itu sudah ada sejak dulu. Apalagi kalau kantor sampai rumah dinas berjarak tidak lebih dari lima kilometer. Panas? Ku beritahu rahasia, yang membuat panas itu asap dari knalpot, sedangkan yang bikin sejuk itu pohon hidup. Sedangkan kotoran kuda itu bisa jadi penyubur pohon yang masih hidup.
“Coba kita tanyakan pada rumput yang bergoyang”. Meskipun banyak anugerah Tuhan Yang oleh ‘Indonesia saat ini’ disia-siakan, dikuras tanpa perasaan. Tapi setidak-tidaknya diriku sendiri bangga akan satu kenyataan di hadapan ku. Kenyataan yang dapat dibanggakan di konferensi antar bangsa. Tidak sekedar membanggakan anugerah Tuhan, karena anugerah tersebut sudah selayaknya untuk dibanggakan jika kita telah benar cara membanggakannya. Siapapun bangsanya jika diberi karunia alam seperti di Indonesia pasti bangga, jadi ku rasa bukan itu yang dibanggakan jati diri Indonesia, Banggalah akan kenyataan ini, harapan. Indonesia adalah bangsa yang penuh dengan harapan, sikap optimis, dan hasrat untuk jadi yang terbaik dengan lebih baik. Sejak zaman dahulu kala, entah itu bangsawan, petani, pengangguran, presiden sekalipun, sampai sekarang pasti punya keinginan untuk jadi lebih baik. Bahkan di saat yang paling sulit, kala penjajahan harapan untuk merdeka selalu berkobar. Saat kemiskinan dialami, harapan bahwa anak cucunya jadi lebih baik tetap digemakan di telinga anak-anak itu. Saat bangsa ini kehilangan jati dirinya, semangat menjadi harapan untuk pembuktian pada bangsa lain, bahwa Indonesia adalah yang terbaik. Temukan caranya, jika tidak ketemu, buat cara mu sendiri. Bangsa lain akan iri. Meskipun hanya kecil, secercah harapan itu akan selalu ada, itulah yang –setidaknya- diri ku sendiri banggakan dari Indonesia. Dan –setidaknya- diriku sendiri, bangga jadi Indonesia, karena berarti aku adalah salah satu dari pembawa secercah harapan bagi bangsa ku sendiri, bangsa Indonesia.
Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC, www.mudaers.com.
New Hope
3:35 PMbehind the vintage of glory
and hapiness.
its time to take a new world!
take a new challenged!
and take a new hope..,
keterangan photo:
Photo ini diambil di stadion Manahan Solo saat Opening Porprov dengan objek salah satu teman sekolahku. Photo blur ini masih original, alias tanpa pengeditan apapun (kecuali penambahan watermark).
Met Lebaran
3:10 PMBila takbir menggema dunia
Saatnya kembali ke jati diri manusia
Semoga seluruh ibadah tak sia-sia
Hi guys!
Ramadhan yang penuh kejutAN
Harus kita tinggalkAN
Setelah ditunggu satu bulAN
Akhirnya tiba lebarAN
Waktunya saling memaafkaAN
Agar tersimpul banyak senyumaAN
Pada jiwa tiap insAN
Jangan lupa minta ke TuhAN
kebaikan & harapan di masa depAN
Supaya jumpa lagi dengan RamadhAN
Saatnya kembali ke jati diri manusia
Semoga seluruh ibadah tak sia-sia
Hi guys!
Ramadhan yang penuh kejutAN
Harus kita tinggalkAN
Setelah ditunggu satu bulAN
Akhirnya tiba lebarAN
Waktunya saling memaafkaAN
Agar tersimpul banyak senyumaAN
Pada jiwa tiap insAN
Jangan lupa minta ke TuhAN
kebaikan & harapan di masa depAN
Supaya jumpa lagi dengan RamadhAN
Selagi masih bernyaWA
Ayo bersihkan jiWA
selagi belum maTI
Ayo sucikan haTI
Aku yang punya banyak kesalahAN
Tolong dimaafkAN
Minal aidin wal faizIN
Mohon maaf lahir & batIN
Ayo bersihkan jiWA
selagi belum maTI
Ayo sucikan haTI
Aku yang punya banyak kesalahAN
Tolong dimaafkAN
Minal aidin wal faizIN
Mohon maaf lahir & batIN
Keterangan photo:
photo masjid ini diambil lebaran tahun lalu, di kawasan Purwodadi. Waktu itu sedang berhenti untuk sholat maghrib, saat perjalanan mudik dari Solo ke Kudus. Nama masjidnya.., lupa! (amnesia lagi nih..) original picturenya ini nieh...
Bersama Walikota Surakarta
9:41 AMBulan Ramadhan memang bulan yang penuh dengan kejutan.
Karena ada himbauan dari guru Farmakologi ku, yaitu pak Muji. Sabtu, 12 September 2009 sore hari tepat setelah pulang sekolah (masih bau keringat euy!). Menuju ke kediaman Walikota Solo yang akrab disapa pak Jokowi. Bersama Rendhy, Fauzi, dan tentu saja diriku sendiri mengendarai motor ke “Lodjie Gandrung” yakni rumah dinas Walikota Surakarta. Sampai di halaman, kami disapa ‘ramah’ oleh petugas keamanan (standar keamanan nih..). Setelah menjelaskan bahwa maksud kedatangan kami tak lain untuk ikut acara “Buka Puasa Bersama”, baru kami masuk. Ternyata peserta yang datang kebanyakan merupakan anak panti asuhan, ditambah sedikit perwakilan yayasan, dan siswa SMA/SMK yang tidak begitu banyak.
Setelah dapat tempat duduk, pembawa acara yang suaranya sudah tidak asing lagi di telinga ku memulai acara. Oalah.., pantas saja tidak asing, ternyata ada kru Solo Radio di belakang. Dan si pembawa acara nampaknya adalah salah satu penyiarnya, my favorit one. Wkwkwkw.., tidak menyangka, rupa manusia yang ku dengar suaranya hampir tiap pagi sebelum ke sekolah, ternyata kayak gitu.^o^
Acara dimulai dengan sesi kesenian dari salah satu SLB (lupa SLB mana..), tapi penampilan mereka boleh juga, terutama si pemain keyboard. “Hebat! Hanya dengan menggunakan satu tangan!” sepenggal kutipan pujian dari Pak Ustadz. Sesi berikutnya, tanya jawab. Di sesi ini kami diperbolehkan bertanya apa saja kepada pak Walikota, dan si penanya bakal dapat bingkisan. Oke, dengan pe-De ingin rasanya ku ajukan pertanyaan. Tapi sayang, sampai giliran ku bertanya, eh.., malah cuma sampai tiga penanya doank. :’( “No problemo” acara tetap lanjut dengan sesi pertanyaan dari walikota yang berhadiah sepeda! Yang ini juga masih sampai tiga penjawab juga.. T.T Di acara inti, diisi oleh ceramah hebatnya Ustadz Hanif yang sempat memuji penampilan band anak-anak SLB dalam membawakan berbagai lagu dengan baik. Tadinya mau tanya nomor ponsel pak Ustadz itu, buat mengisi acara Halal Bihalal sekolah, ehh malah lupa! (“Amnesia Sesaat” nih..)
Singkat cerita, acara inti selesai (lupa isinya apa aja), kemudian dilanjutkan dengan buka puasa ‘a-la’ prasmanan. Dengan sebelumnya diawali dengan makanan Ta’jil (pembuka puasa) dan sholat maghrib berjamaah. Kesimpulan, satu kata: ‘kenyang’, dari banyak santapan lezat yang dihidangkan (ya harus lah).
Sesi terakhir, photo dokumentasi. Antre dulu.., iya! Di antrian awal, I really love it dapat oleh-oleh dari pak Jokowi! Pikirku, “Lumayan bisa buat mengisi pulsa, seandainya untuk internetan, ya.., kira-kira bisa buat satu bulan lah, dengan pemakaian normal.” Tapi sayang (lagi), kami antre di bagian terakhir. Jadi oleh-oleh buat ku, bahan postingan di blog ini deh. :D
Sial! Seharusnya tadi aku bawa kameranya mas Kurniawan yang dipegang si Rahma. Jadi terpaksa pakai kamera orang lain deh. Pas mau minta hasil photo sama ‘mbak pemotret’nya, malah dijawab, “Oiya.., nanti liat di facebooknya Solo Radio aja ya Mas...”.
Setelah mau pulang, terpaksa aku memaksa teman-teman ku untuk meng-capture ‘event’ tersebut, kembali dengan ponsel my lovely k610i. Malam-malam pakai night-mode, hasilnya jadi blur deh.












